Monday, August 13, 2007

Pantai Sepanjang Yogya; Pesona Kuta Tempo Dulu

Bila ingin bernostalgia menikmati nuansa Pantai Kuta tempo doeloe, Pantai Sepanjang adalah tempat yang tepat. Sepanjang memiliki garis pantai yang panjang, pasir berwarna putih yang masih terjaga, dan ombak yang sedang. Anda tinggal memilih, ingin berjemur di atas pasir menikmati terik matahari, membelah ombak dengan papan selancar, ataupun hanya melihat keindahan pantai. Semuanya bisa Anda nikmati begitu tiba di pantai yang berjarak beberapa kilometer dari Pantai Sundak ini.

Pantai Sepanjang merupakan salah satu pantai yang baru dibuka. Nama "Sepanjang" diberikan karena ciri khas pantai ini yang memiliki garis pantai terpanjang di antara semua pantai di Kabupaten Gunung Kidul. Suasana pantai ini sangat alami. Bibir pantai dihiasi tumbuhan palem dan gubug-gubug beratap daun kering. Karang di wilayah pasang surut pantai pun masih terawat. Hempasan ombak masih memantulkan warna biru menandai air laut yang belum banyak tercemar. Dengan suasana itu, tak salah bila pemerintah daerah maupun investor berencana menjadikan pantai ini sebagai Pantai Kuta kedua.

Suasana alami itulah yang menjadikan Pantai Sepanjang lebih dari Pantai Kuta. Sepanjang tidak menawarkan hal-hal klise seperti beach cafe dan cottage mewah, tetapi sebuah kedekatan dengan alam. Buktinya, anda akan tetap bisa menggeledah karang-karang untuk menemukan berbagai jenis kerang-kerangan (Mollusca) dan bintang laut (Echinodermata). Anda juga tetap bisa menemukan limpet di batuan sekitar pantai dan mencerabut rumput laut yang tertanam. Tentu dengan berhati-hati agar tak tertancap duri landak laut. Jelas kan, Anda tak akan menemuinya di Pantai Kuta.

Kebudayaan masyarakat pantai juga masih sangat kental. Tak ada bangunan permanen di pinggir pantai, hanya beberapa gubug yang ditinggali oleh masyarakat setempat. Masih di pinggir pantai, terdapat ladang yang digunakan penduduk untuk menanam kedelai. Pantai yang landai dan langsung diterpa ombak menyebabkan tak ada penduduk yang melaut. Bila melihat ke belakang, akan tampak dua buah bukit yang bagian lerengnya digunakan penduduk setempat untuk menanam jagung sebagai sumber makanan pokok.

Sepanjang juga memiliki situs bersejarah, yaitu Banyusepuh. "Banyu" berarti air dan "sepuh" berarti basuh atau membasuh. Sesuai namanya, tempat yang tadinya berupa mata air ini digunakan untuk membasuh atau memandikan. Penggunanya konon adalah para wali yang biasanya membasuh pusakanya. Situs ini tak akan diketahui keberadaannya bila tak bertanya ke penduduk setempat.

Capek berkeliling, maka istirahatlah. Gubug-gubug yang berada di pinggir pantai biasanya digunakan penduduk untuk menjual makanan dan minuman yang sekiranya cukup untuk melepas lapar dan dahaga. Disediakan pula lincak (tempat duduk yang disusun dari bambu) untuk tempat ngobrol dan menikmati semilirnya angin pantai. Kalau senja tiba, tengoklah ke barat untuk menyaksikan kepergian matahari. Walau kini belum ada villa, namun penduduk setempat cukup terbuka bila ada yang menginap.

Soal oleh-oleh jika pulang, pengunjung tak perlu berpusing-pusing mencari. Bukankah oleh-oleh tak harus selalu berbentuk makanan? Beberapa penduduk yang tinggal beberapa kilometer dari pantai sudah membuat kerajinan tangan berbahan dasar cangkang kerang-kerangan yang kemudian dipasarkan oleh penduduk pantai. Meski tak sekomersil di Malaysia, kerajinan tangan yang dibuat oleh penduduk cukup bervariasi. Ada kreasi berbentuk kereta kencana, orang-orangan, barong, jepitan, ataupun yang hanya sekedar dikeringkan dan dipendam di dalam pasir. Beberapa di antaranya dilukis sederhana menggunakan cat. Harganya pun tak mahal, cuma Rp 5.000 per biji.

Harga kerajinan yang murah tak berarti bernilai rendah. Kerajinan berbahan dasar Mollusca sebenarnya memiliki nilai historis yang besar. Jika pernah membaca buku ataupun artikel tentang Conchology, Anda akan mengetahui bahwa kerajinan tersebut adalah bentuk kebudayaan maha tinggi yang berkembang di masyarakat pesisir. Orang-orang Hawaii di Amerika Serikat, Kepulauan Melanesia, atapun Maori di Selandia Baru mengembangkan kerajinan serupa. Mereka merangkai cangkang kerang-kerangan menjadi kalung, rok, ikat pinggang, hingga memahat dan melukisnya menjadi seni rupa maha dahsyat.

Apabila uang di dompet sedang mepet, pengunjung dapat mengkoleksi cangkang yang ada di pinggiran pantai. Benda kecil ini dapat menjadi hadiah menarik bila diproses lebih lanjut. Ambil beberapa buah cangkang yang masih utuh kemudian masukkan dalam kantong plastik. Sesampainya di rumah, belilah tembakau atau mint dan campurkan dengan alkohol 90%. Setelah direndam sehari semalam, ambil cangkang dan gosok perlahan. Langkah itu akan menghilangkan lapisan kapur pada cangkang sehingga yang tinggal hanya lapisan tengahnya saja (lapisan prismatik). Gosokan akan membuat warna cangkang lebih cemerlang.

Cipanas; Nikmati Kesejukan Taman Bunga Nusantara

Kita mengenal beberapa tempat tujuan wisata alam yang sangat menarik di Jawa Barat. Di antaranya Gunung Tangkuban Parahu, Pemandian Air Panas Ciater, Situ Patengang, Situ Cileunca, Pantai Pangandaran, Palabuhan Ratu, Taman Ciung Wanara, Kebun Raya Bogor, Kebun Binatang maupun berbagai tempat menarik lainnya.

Bila hendak menikmati keindahan aneka ragam tumbuhan bunga, sekaligus menambah wawasan tentang berbagai jenis tumbuhan, kita antara lain dapat mengunjungi berbagai tempat seperti Kebun Raya Bogor, atau Taman Bunga Nusantara yang berada di daerah Cipanas Cianjur.
Taman yang diresmikan pada akhir 1995 lalu oleh Presiden Soeharto ini, mempunyai luas 35 hektare. Lahan dibagi menjadi beberapa fungsi, yaitu 23 hektare untuk taman bunga , 7 hektare sebagai taman bermain anak-anak, 2 hektare untuk taman pembibitan, dan 3 hektare untuk fasilitas restoran.

Di areal taman bunga ini, disediakan tempat khusus untuk berkumpul. Di tempat ini, kita dapat menggelar tikar untuk makan bersama dan mengadakan berbagai acara, seperti perlombaan dan permainan. Hal ini sengaja dibuat agar pengunjung tidak mengganggu areal taman bunga.Menyempatkan diri untuk berkeliling taman dan mencari berbagai informasi seputar taman, maka pertama kali pandangan saya tertarik dengan display burung merak. Ketertarikan saya itu tertuju pada rangkaian bunga yang terhampar membentuk pola ekor merak yang berwarna-warni.
Display burung merak ini, dibentuk oleh 20.000 bunga musiman yang seluruhnya berasal dari luar negeri, seperti bunga pentunia. Bunga ini disebut bunga musiman karena memiliki masa hidup dan berbunga antara 2-3 bulan saja.

Bunga-bunga ini mendapatkan perawatan ekstra, termasuk penyediaan lahan yang subur, penyiraman dengan takaran air yang tepat, dan pemberian insektisida secara teratur. Jadi dapat dibayangkan setiap 2-3 bulan sekali pengelola taman bunga ini mengganti seluruh tanaman bunganya.
Oleh karena itu jangan heran jika kita berkunjung lagi ke sana, kita akan mendapat dekorasi warna bunga yang berbeda. Display lain yang menarik perhatian saya adalah jam taman. Jam taman ini cukup besar. Jarum jamnya pun sekitar 4 meter. Jam taman ini dirancang oleh teknisi dari Jepang.

Jam ini berdentang setiap setengah jam sekali yang diiringi oleh suara bel dan musik. Tak jauh dari jam taman, saya memerhatikan taman air yang sepintas biasa-biasa saja. Di sana terdapat beberapa tumbuhan air seperti lotus atau bunga teratai dan teratai raksasa (Victoria amazonica). Namun kesan biasa-biasa itu berubah menjadi luar biasa, setelah memperoleh informasi bahwa lotus itu berasal dari Asia Timur dan Australia, sedangkan teratai raksasa berasal dari Amerika Selatan.

Di taman air pun, terdapat tanaman dari AS bagian tenggara yang mempunyai nama latin Thalia delbata. Selain itu, ada juga pohon papyrus yang berasal dari Mesir. Pohon papyrus ini digunakan sebagai bahan pembuat kertas oleh bangsa Mesir sejak 2750 SM.

Di samping itu, taman bunga ini juga menyimpan kekayaan fauna meskipun hanya terbatas pada jenis burung dan jumlahnya pun tidak banyak. Di kawasan taman air ini, juga terdapat angsa berwarna putih dan hitam, serta beberapa burung belibis. Angsa putih ini khusus didatangkan dari Eropa, angsa hitam berasal dari Australia, sedangkan belibis dari Belanda. Tentunya hewan-hewan ini pun membutuhkan pemeliharaan yang ekstra ketat.

Mengelilingi taman bunga dengan berjalan kaki, tentu sangatlah melelahkan karena luasnya area. Untuk mengefektifkan waktu, kita dapat menggunakan fasilitas mobil yang sudah disediakan pengelola untuk berkeliling ke seluruh area taman ini. Dengan menggunakan kendaraan, kita akan melihat bagian unik lainnya dari taman ini, di antaranya ada taman Prancis. Taman Prancis ini, dibuat berdasarkan pola taman bunga di negara Prancis yang disebut parteri. Taman ini seperti hiasan sulaman.

Kita juga bisa menyempatkan diri menikmati lahan sejuk yang dipenuhi pohon palem. Berbagai jenis palem sengaja didatangkan dari beberapa negara, di antaranya palem alexandria dari Queensland, Australia, palem raja dari Kuba, dan palem kipas dari Meksiko. Selain itu ada juga taman Jepang yang mengambil pola taman-taman gaya Jepang yang serbamini.

Taman Bumi Kedaton Lampung; Pilihan Wisata Keluarga

Bagi warga yang ingin menunggang gajah, tidak perlu lagi jauh-jauh menempuh perjalanan 80 km dari Bandar Lampung ke Pusat Latihan Gajah (PLG) Taman Nasional Way Kambas, Lampung Timur. Pasalnya, sejak akhir tahun lalu di pinggir Kota Bandar Lampung sudah dirintis sebuah taman wisata yang diberi nama Taman Bumi Kedaton.

Taman wisata ini lebih mirip kebun binatang karena menghadirkan sejumlah hewan mulai dari gajah sumatera (Elephas maxsimus sumatrensis) yang didatangkan dari Taman Nasional Way Kambas (TNWK), siamang (Symphalangus syndactylus), beruk (Macaca nemestrina), kera ekor panjang (Macaca fascicularis), ayam hutan (Gallus gallus), elang (Folconidae), biawak (Varanus salvator), dan berbagai jenis ayam dari Cina, Arab, dan Australia.

Kehadiran objek wisata ini menjadi salah satu hiburan tersendiri, bukan hanya bagi warga Bandar Lampung, juga warga dari luar kota yang selama ini harus ke TNWK untuk melihat gajah. Lagi pula di hari-hari libur di sini juga dipertunjukkan atraksi gajah seperti di TNWK.

Pengunjung umumnya penasaran terhadap kehadiran objek wisata yang awalnya sempat mendapat reaksi keras dari sejumlah LSM lingkungan ini karena mengeksploitasi hewan langka, seperti gajah. Rasa penasaran ini terbukti dengan membludaknya pengunjung pada setiap hari libur. Selain rasa penasaran, pengunjung tampak ingin memberikan hiburan yang baru kepada putra-putrinya. Maklum selama ini, hari libur diisi warga Bandar Lampung dan sekitarnya dengan berwisata ke pantai.

Petugas jaga Taman Bumi Kedaton mengakui hal tersebut. Menurut dia, sebagian besar pengunjung hampir 90 persen adalah keluarga yang membawa anak-anaknya. Dan, yang paling disukai keluarga saat berkunjung ke tempat itu adalah berkeliling menunggang gajah. ”Pengunjungnya memang kebanyakan anak-anak yang ditemani orangtuanya,” ujarnya, baru-baru ini.

Untuk memudahkan warga mengunjungi objek wisata ini, sejak dari dalam Kota Bandar Lampung sudah terdapat sejumlah papan nama penunjuk arah. Mulai dari memasuki Jalan Pangeran Emir M. Noor, tidak jauh dari kantor PDAM Way Rilau, papan informasi taman wisata sudah terpampang di tepi jalan.

Sejak memasuki wilayah Sukarame II, Telukbetung Barat, suasana hutan memang sudah terasa dan terlihat di kiri kanan jalan menuju ke taman wisata ini.

Wilayah yang terletak di dataran tinggi ini juga memberikan panorama tersendiri bagi pengunjungnya dengan melihat sebagian wilayah Bandar Lampung dari jalan yang menanjak dan berliku-liku. Selain itu, perjalanan menuju ke taman wisata ini juga didapati pedagang buah-buahan seperti durian dan pepaya. Apabila sedang musim panen durian, pengunjung bisa menikmati durian segar yang baru jatuh dari pohon.

Tiba di taman wisata yang menjadi fokus tujuan, pengunjung harus membayar tiket masuk Rp3.000/orang untuk bisa memasuki lokasi. Selebihnya jika ingin masuk ke lokasi pertunjukan atraksi gajah dan manusia pemakan ular dikenai biaya tiket Rp10.000 untuk melihat atraksi gajah dan Rp3.000 untuk menyaksikan manusia pemakan ular. Sementara bagi pengunjung yang berminat ”mengendarai” gajah, tarifnya Rp10 ribu/penumpang untuk sekali jalan berkeliling taman.

Mungkin karena masih terbilang baru, masih banyak kekurangan di sana sini. Namun kebanyakan pengunjung yang tidak mau tahu tentang kekurangan itumengeluhkan taman yang masih belum lengkap atau disebut kebun binatang, sebab jenis binatang yang ada di taman wisata ini masih sedikit.

Penggagas taman wisata ini, Gubernur Lampung Sjachrudin Z.P. menjelaskan, Taman Wisata Bumi Kedaton dibangun dengan tujuan ingin memberikan hiburan alternatif bagi warga. Dengan dibangunnya taman wisata alam tersebut, masyarakat Lampung dapat memilih jenis hiburan lain yang ada di Kota Bandar Lampung. Salah satunya Taman Wisata Bumi Kedaton, di samping yang selama ini sudah begitu terkenal di Taman Hiburan Rakyat (THR) Pasir Putih. Selain ini pembangunan taman wisata yang juga akan dijadikan transit bagi satwa langka Sumatera sebelum dikembalikan ke habitat awalnya.

Kebun Raya Bogor; Wisata Sejuta Pohon

Begitu memasuki gerbang utama yang dijaga oleh dua patung Ganesha, dewa kebijaksanaan Hindu, pengunjung bisa memilih empat rute yang ditawarkan di kebun seluas 87 hektare itu. Memasuki rute satu, kita akan menyusuri Jalan Kenari, sesuai jenis pohon bernama latin Canarium commune yang banyak tumbuh di kawasan itu. Pohon ini ditanam Johannes Elias Teysmann pada 1832, penata taman dari Belanda yang saat itu menjabat kurator pertama Kebun Raya Bogor.

Di persimpangan pepohonan besar dari jenis angsana atau sono kembang, terdapat Tugu Lady Raffles, isteri Thomas Stamford Rraffles, Gubernur Jawa pada 1811-1816. Tugu ini dibuat Raffles sebagai peringatan atas meninggalnya Lady Olivia Mariamne Raffles pada 1814, akibat penyakit malaria. Di rute ini pengunjung dapat melihat megahnya Istana Bogor dikelilingi Kolam Gunting yang dipenuhi bunga teratai. Di seberang kolam ada pohon tertua di Kebun Raya Bogor yang ditanam pada 1823. Yakni, pohon leci atau Litchi chinenis yang khusus didatangkan dari China.

Selain ditumbuhi ribuan species tanaman baik dalam maupun luar negeri, Kebun Raya juga merupakan "pulau" tempat berlindung bagi beraneka burung di tengah kota yang berkembang pesat, Tercatat lebih dari 50 jenis burung ada di sini, seperi kepodang, walik kembang, kutilang, kucica, kowak, kuntul, dan cinenen kelabu. Seperti yang terlihat sore itu, puluhan kuntul berseliweran di atas pohon yang tumbuh di tengah kolam, dengan suaranya yang khas.

Keindahan kebun yang terletak di Jl H Juanda ini tidak saja dikenal di Indonesia, tapi juga tersohor hingga seluruh dunia. Tak heran jika banyak wisatawan dari mancanegara terlihat berlalu lalang sambil mengamati berbagai jenis tanaman langka yang banyak terdapat di sini. Penulis sempat bertemu wartawan televisi dari Taiwan, kedatangannya ini untuk mengabadikan aneka pohon raksasa berusia ratusan tahun. Namun, dia mengaku agak kecewa, karena kini banyak pohon langka yang tumbang.

Melanjutkan perjalanan memasuki rute kedua, selain akan menemui rimbunan pohon pandan, palem, dan beberapa kolam dengan aneka tanaman air. Pemandangan yang sangat indah bisa ditemui di Cafe Botanicus yang dikelilingi padang rumput dan kolam besar berhiaskan tanaman teratai. Di tempat inilah pengunjung banyak yang memanfaatkannya untuk beristirahat atau bersantai. Berbaring beralaskan rumput atau menikmati bekal makanan bersama keluarga.

Jika Anda merupakan penggemar pohon jenis paku-pakuan, maka rute ketiga merupakan surganya jenis ini. Di sana ada Taman Meksiko, bagian hutan alam yang dipenuhi koleksi paku-pakuan, rempah-rempah, palem dan kalong buah.
Bagi penggemar anggrek, di rute keempat Kebun Raya Bogor juga menyimpan banyak koleksi yang bernilai tinggi. Tak heran jika pada 1977, Siti Hartinah, isteri mantan Presiden Soeharto mendanai pembuatan rumah kaca khusus untuk koleksi anggrek liar yang ada di Indonesia. Sayangnya, untuk memasukinya harus ada izin khusus dan membeli karcis terlebih dahulu.

Saking luasnya, agar bisa puas mengelilinginya lebih baik kita datang saat kebun ini dibuka, yakni pukul 08.00-17.00 dengan membayar karcis Rp 3.500 per orang. Dan, jangan lupa membawa bekal makanan serta menggenakan alas kaki yang nyaman.

Keberadaan kebun ini berawal dari keinginan Sir Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jawa pada 1811-1816, untuk membentuk Kebun Istana yang ditempatinya menjadi taman bergaya Inggris. Dua penata taman dari Kebun Raya Kew di London, Inggris sengaja didatangkannya. Penataan demi penataan pun dilakukan demi mewujudkan impian akan taman yang indah.

Apa yang diimpikan Raffles akhirnya berhasil diwujudkan Casper Georg Carl Reinwardt yang sekaligus dinobatkan sebagai pendiri Lands Plantentuin, nama yang diberikan bangsa Belanda untuk Kebun Raya. Reinwardt adalah orang Jerman yang yang pindah ke Amsterdam dan mempelajari ilmu pasti alam, dengan spesialisi botani dan ilmu kimia.

Reindwardt pun memutuskan mengumpulkan seluruh tumbuh-tumbuhan ini dalam suatu kebun botani di Bogor, yang pada waktu itu disebut Buitenzorg, yang berarti tanpa pemeliharaan atau perawatan. Hal ini juga memberikan kesempatan baginya untuk mengoleksi tumbuhan dan biji-bijian dari berbagai wilayah di semenanjung Malaya. Kebun Raya inilah yang pada akhirnya menjadikan Bogor sebagai pusat pengembangan pertanian hortikultura di Indonesia.

Barulah pada 1817, lahan seluas 47 hektare yang berbatasan dengan istana Gubernur Belanda itu ditetapkan menjadi Kebun Raya . Reinwardt adalah direktur pertama (1817-1822). Pada 1830, penata taman dari Belanda Johannes Elias Teysmann menjadi kurator kebun raya dan menghabiskan waktu lebih dari 50 tahun untuk mengembangkan kebun ini.

Bukit Senyum Batam; Mengintip Gemerlap Malam Singapura

Kota Batam memang indah. Penuh dengan daya tarik. Selain dikenal dengan sebutan Kota Perdagangan dan Industri, Batam yang selama beberapa tahun terakhir menjadi ibu kota Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) ternyata pantas juga disebut Kota Wisata.

Coba perhatikan pelabuhan feri Batam, setiap liburan tampak dipadati wisatawan asing dari Singapura. Pada akhir-akhir pekan, terutama di bulan Juli hingga Agustus, arus wisatawan dari dan ke Batam-Singapura meningkat tajam. Pada bulan Juli-Agustus, sebagian besar kawasan perbelanjaan di Singapura, terutama di sejumlah mal yang ada di Orchard Road, memberlakukan pesta diskon besar-besaran untuk segala macam barang jualan, mulai dari produk elektronika, pakaian, telepon genggam, hingga perlengkapan rumah tangga.

Pesta diskon besar-brsaran itu dilakukan dalam rangka menyemarakkan hari kemerdekaan Singapura. Hal serupa juga dilakukan sejumlah hotel dan tempat-tempat perbelanjaan di Nagoya, Batam. "Karena itu, tak aneh jika di bulan Juli dan Agustus, kecenderungan arus wisatawan dari dan ke Batam-Singapura selalu meningkat. Di Singapura, warga Indonesia bisa puas berbelanja barang dengan diskon mencapai 70 persen, sedangkan di Batam, warga Singapura bisa menikmati diskon kamar hotel dan belanjaan di mall hingga mencapai 50 persen.

Bukit Senyum adalah sebuah lokasi perbukitan di Batam. Lokasi ini menyimpan potensi pelancongan yang bagus jika dikembangkan secara profesional. Dari kawasan Bukit Senyum, masyarakat bisa memotret Singapura, bangunan-bangunanya dan lalu lalang kapal dari batam ke singapura dan juga sebaliknya yang seolah-olah jaraknya tidak jauh. Dari kawasan Bukit Senyum masyarakat juga bisa leluasa menyaksikan pesawat-pesawat dari Bandara Internasional Changi, Singapura, take off hingga ke atas kawasan Bukit Senyum.

Dan, bila malam hari, indahnya Singapura jelas terlihat. Lampu-lampu kapal dan bangunan tinggi di Singapura tampak gemerlapan. Sementara di Bukit Senyum, Batam, masyarakat pelancong menyaksikan eksotisme Singapura itu dengan cara yang sangat sederhana, yaitu duduk-duduk di atas rumput, atau bangku-bangku darurat yang disediakan para pedagang setempat.
Kawasan wisata Bukit Senyum memang belum dilengkapi fasilitas hotel dan tempat-tempat pelancongan yang representatif. "Padahal, kenyataan itu diperlukan pelancong," ujar beberapa pengunjung.

Hal-hal yang diperlukan segera dibangun di kawasan wisata Bukit Senyum, menurut Rio, selain hotel, tempat-tempat pelancongan yang menyediakan hidangan makanan ringan, minuman segar, dan lokasi perparkiran. Di lokasi-lokasi pelancongan itu, Rio menilai, pengunjung tidak sekadar bisa menghilangkan kepenatan, tetapi sambil bersantai dan menikmati lagu-lagu kenangan, mencicipi makanan ringan, juga sangat dimungkinkan kalangan pengusaha melakukan transaksi bisnis di lokasi itu.

Apa yang dituturkan banyak orang itu dibenarkan beberapa warga pengelola parkir di Bukit Senyum. Hamzah Arraniri, pemuda dari Meulaboh, Aceh, mengatakan, selama setahun terakhir dia bisa hidup di Batam dengan hanya berjualan kopi panas dan pisang goreng di Bukit Senyum. "Kalau malam Minggu, pengunjung ramai sekali. Mereka duduk-duduk sambil memperhatikan gemerlapnya lampu-lampu bangunan Singapura. Kepada merekalah saya menawarkan minuman dan hidangan ala kadarnya. Ternyata jualan saya selalu habis. Untungnya pun lumayan," ujar Hamzah.

Sementara Jufriansyah (32) asal Bengkulu menjadi fotografer amatir di Bukit Senyum. Setiap Minggu, kata Jufri, sedikitnya Rp 100 ribu bersih bisa dikantonginya dari hasil "jualan" foto polaroid kepada pengunjung yang ingin bergambar dengan latar belakang Singapura. Jufri sangat yakin, pendapatannya bisa berlimpah jika pengelolaan potensi wisata Bukit Senyum dilakukan secara profesional.

"Soalnya, jika diolah secara tepat, pengunjung akan makin banyak berdatangan ke Bukit Senyum," ujar Jufri. "Dan Batam akan memetik keuntungan dari pengelolaan parkir serta pajak mendirikan tempat pelancongan di sini," kata Hamzah.

Syarifudin rupanya sudah lama memikirkan semua itu. Makanya, bisa jadi dialah pengusaha yang paling merasa rugi jika gagal membangun hotel dan tempat pelancongan di Bukit Senyum. Anda sudah pernah berwisata di Bukit Senyum, Batam?

Sumbawa; Ombak yang Memanjakan Peselancar

Sumbawa Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) memiliki obyek wisata pantai yang tak kalah eksotisnya dengan Bali. Salah satu objek wisata pantai di NTB yang namanya sudah mulai dikenal adalah Pantai Senggigi. Sebenarnya bukan cuma Pantai Senggigi yang dapat dijadikan obyek wisata di NTB. Jika pelancong punya cukup banyak waktu, objek wisata pantai di Kabupaten Sumbawa Barat layak untuk dikunjungi.

Di Kabupaten Sumbawa Barat ini terdapat beberapa obyek wisata pantai. Mulai dari Pantai Maluk, Pantai Sekongkang, Pantai Tropical, hingga ke Pantai Jelengah. Dari obyek wisata pantai yang ada di Kabupaten Sumbawa Barat ini, Pantai Maluk merupakan obyek yang paling banyak menarik minat wisatawan.

Untuk mengunjungi Pantai Maluk ini tidak terlalu sulit. Sarana transportasi yang dibutuhkan oleh wisatawan tersedia setiap saat. Dari Ibu Kota NTB, Mataram, dibutuhkan waktu sekitar enam jam untuk sampai ke Pantai Maluk. Sekitar dua jam perjalanan menggunakan feri dari Pelabuhan Kayangan Lombok. Selebihnya perjalanan ditempuh melalui jalur darat.

Pantai Maluk terdapat di Desa Maluk, Kecamatan Jereweh, Kabupaten Sumbawa Barat. Dari Pantai Maluk ini wisatawan bisa melihat pesona keindahan Teluk Maluk. Bukan hanya itu. Pantai Maluk kerap dijadikan oleh wisatawan sebagai arena berselancar. Tak heran apabila peselancar kelas dunia senantiasa mengagendakan kegiatan di Pantai Maluk.

“Ombak di Pantai Maluk ini telah masuk dalam daftar ombak terbaik bagi peselancar dunia,” jelas Eldiman, salah seorang pengelola papan selancar di Pantai Maluk yang ditemui SH belum lama ini. Oleh para peselancar, ombak di Pantai Maluk diberi julukan Super Suck. Julukan ini diberikan karena ombak yang menuju daratan terpecah oleh sebuah tanjung.

Oleh penduduk setempat, tanjung tersebut dinamai Tanjung Ahmad. Pecahan ombak ini menggulung hingga ketinggian di atas dua meter. Ombak tersebut terus bergulung-gulung hingga seolah menyedot para peselancar yang mencoba menaklukkannya. Menurut Eldiman, hanya peselancar yang piawai bermain di atas papan selancar saja yang mampu menaklukkan ombak Super Suck Pantai Maluk.

Jika wisatawan tidak membawa papan selancar, tak perlu kuatir. Eldiman menyebutkan pihaknya siap menyewakan papan selancar. Menyangkut tarif sewa, tidak ada tarif tertentu. “Kadang kami malah meminjamkannya dengan gratis,” timpal Eldiman. Dengan ombak yang begitu menantang, tak heran jika Pantai Maluk menjadi ajang pamer kemahiran para peselancar yang datang dari berbagai penjuru dunia. Biasanya mereka datang pada saat-saat hari libur. Suasana pantai yang masih tergolong sepi, membuat wisatawan menjadi lebih enjoy.

Memang dibandingkan dengan obyek wisata pantai di Bali, Pantai Maluk belum banyak dikunjungi oleh wisatawan. Pantai Maluk masih kalah populer dibandingkan dengan Pantai Kuta maupun Pantai Sanur. Padahal dari segi pesona eksotisnya, Pantai Maluk tak kalah. Pasirnya yang putih dan lembut serta matahari yang memancarkan sinar terik, bisa membuat wisatawan betah berjemur. Bagi wisatawan yang tidak ingin berjemur atau berselancar, dapat menghabiskan waktu dengan bermain kano. Setiap kano dapat disewa dengan tarif sebesar Rp 5.000 per jam.

Puas berjemur, berselancar maupun bermain kano, wisatawan dapat mengisi perut dengan berbagai masakan laut yang membangkitkan selera. Menikmati sea food sembari menyaksikan gulungan ombak berkejar-kejaran memang sangat nikmat. Kendati mulai banyak dikunjungi wisatawan mancanegara, sayangnya fasilitas yang ada masih perlu dibenahi. Memang fasilitas di Pantai Maluk terkesan masih minim. Memang fasilitas seperti pancuran terbuka, rumah makan, arena voli pantai serta fasilitas bermain anak-anak telah tersedia. Hanya saja fasilitas tersebut kapasitasnya masih minim.

Menurut Kepala Desa Maluk, Mukhlis HM, fasilitas yang ada saat ini sebenarnya jauh memadai dibandingkan beberapa tahun lalu. “Sekitar empat tahun lalu Pantai Maluk masih banyak ditumbuhi oleh semak belukar. Sekarang jauh lebih baik,” ujar Mukhlis.
Masalah lain barangkali berkaitan dengan fasilitas menginap. Memang telah ada hotel dengan tarif berkisar Rp 150.000 - Rp 250.000 per hari.

Meski demikian, dibandingkan dengan pantai-pantai lainnya di Sumbawa Barat, fasilitas di Pantai Maluk sesungguhnya jauh lebih memadai. Di Pantai Sekongkang, misalnya, bahkan fasilitas yang tersedia boleh dibilang tak memadai. Kurangnya promosi membuat Pantai Sekongkang kalah pamor dibandingkan dengan Pantai Maluk.

Padahal ombak Pantai Sekongkang ini pun telah masuk kategori ombak terbaik di dunia bagi kalangan peselancar. Oleh para peselancar, ombak Pantai Sekongkang dijuluki dengan Ombak Yoyo. Pasalnya, gerakan ombak di Pantai Sekongkang ibarat mainan yoyo yang terayun-ayun naik turun kala dimainkan oleh anak-anak.

Banyumas; Pesona Sensasional Alami

Banyumas, Tentu sudah tidak asing lagi, kalau Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah (Jateng) memiliki satu objek wisata Baturaden. Kekhasan alam sangat terasa mulai dari hutan, air sungai yang jernih, sampai asrinya lokasi perkemahan (camping ground). Namun, ternyata Banyumas tidak hanya memiliki Baturaden.

Di Kecamatan Cilongok atau sekitar 15 km arah barat Kota Purwokerto, juga mempunyai objek wisata yang hampir sama dengan Baturaden. Pesonanya sensasional, karena alam khas pegunungan benar-benar dapat dinikmati pengunjung. Itulah Curug Cipendok dan Telaga Pucung.

Jika Anda ingin mengunjungi Curug Cipendok, siap-siaplah membawa payung atau jas hujan, minimal pakaian ganti. Sebab kalau memasuki kawasan Curug Cipendok, Anda pasti ”kehujanan”. Ini dikarenakan Curug Cipendok adalah air terjun yang memiliki ketinggian hampir 100 meter sehingga titik-titik air membasahi daerah sekitarnya, meski tidak turun hujan.

Curug Cipendok menjadi daya tarik tersendiri, karena lingkungan alamnya masih betul-betul alami. Kesunyian juga masih sangat terasa, sebab belum banyak pelancong yang datang menikmati keindahan alam di Desa Karangtengah, Kecamatan Cilongok tersebut.

Antara Curug Cipendok dengan tempat parkir mobil masih tersisa sekitar 500 meter. Namun jangan khawatir, perjalanan 500 meter jalan dari pintu masuk menuju curug tidak bakal membuat bosan. Justru sebaliknya, perjalanan tersebut membuat pengunjung dibawa memasuki alam yang masih asri. Dengan jalan yang naik turun, wisatawan yang datang akan disambut dengan suara-suara serangga khas hutan tropis.

Setelah berjalan sekitar 15-20 menit, sebelum sampai Curug Cipendok akan terdengar suara gemuruh seperti hujan lebat. Itulah suara air terjun yang turun dari ketinggian hampir 100 meter tersebut. Udara dingin ditambah dengan titik-titik air membuat suasana damai dan fresh. Jika sudah agak siang, sinar matahari yang bersinar membuat pelangi tipis hasil pantulan titik-titik air yang turun.

Menuju Curug Cipendok tidaklah terlalu susah. Hanya saja, belum ada angkutan umum resmi yang sampai ke sana, sehingga kalau wisatawan mengunjungi tempat itu harus dengan kendaraan pribadi atau sewaan. Tempat wisata alam itu, berada sekitar 10 km arah barat Kota Purwokerto atau sekitar 5 km dari Ajibarang, Banyumas.

Dari jalan raya Cilongok menuju lokasi berjarak 8 km dengan kondisi jalan naik dan berkelok, tapi aspalnya sudah halus. Di sekitar lokasi Curug Cipendok, ada juga wisata telaga yang sungguh menakjubkan yakni Telaga Pucung. Telaga setempat dikelilingi oleh hutan pinus dan damar, sehingga sangat cocok untuk camping ground.

Telaga ini akan menjadi salah satu andalan Kabupaten Banyumas untuk menyedot wisatawan. Kompleks Telaga Pucung menempati areal seluas tiga hektare (ha), dengan luas telaga sekitar satu ha. Objek wisata di Banyumas mungkin belum banyak yang kenal, sebab baru akan dibuka secara resmi menjadi tujuan wisata pada 8 Agustus 2005.

Daya tarik objek wisata ini adalah telaga dengan air yang cukup jernih dan di sekitarnya dikelilingi hutan yang masih alami. Selain itu, wisatawan juga dapat mendengar suara-suara burung langka seperti elang Jawa yang terbang berputar-putar di atas telaga. Apalagi, bagi pengunjung yang beruntung dapat melihat spesies endemik sejenis monyet berwarna abu-abu yakni rek-rek.

Tempat wisata yang masuk dalam wilayah Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Banyuma Timur tersebut mulai dibenahi dengan berbagai fasilitas, karena dijadikan tujuan wisata secara resmi.
KPH Banyumas Timur telah melengkapi dengan tempat parkir, tempat istirahat, dan kamar mandi. Bahkan, Perhutani telah memberi nama-nama pohon langka yang hidup di situ. Tujuannya tidak lain diperuntukkan bagi para pelajar, di samping menikmati alam, mereka juga dapat mengenal tumbuh-tumbuhan langka yang hidup di tempat itu.

Di sekitar Telaga Pucung juga terdapat tempat lapang yang dapat digunakan untuk camping ground. Tempat tersebut sengaja dibuat, dikhususkan bagi anak-anak muda yang suka berpetualang dengan di alam bebas. Telaga Pucung ini semakin memantapkan wisata khas Banyumas yakni alam pegunungan. Dengan bertambahnya objek wisata tersebut, wisatawan yang datang ke Banyumas semakin mendambah daftar alternatif tujuan wisata. Jadi, kalau selama ini Anda ke Banyumas hanya pergi ke Baturaden, akan rugi. Pasalnya, masih ada tempat alternatif lainnya yang tidak kalah asrinya. Yang pasti, wisatawan yang datang ke tempat ini akan merasa damai, karena jauh dari hiruk pikuk perkotaan.