Monday, August 13, 2007

Sangeh, Pulau Bali; Dari Misteri Hingga Keindahan Hutan Pala.

Taman Wisata Alam Sangeh, mungkin memang belum banyak dikenal oleh masyarakat Indonesia, padahal Sangeh terletak di sebuah pulau terkenal di Indonesia yaitu Bali. Taman Wisata Alam Sangeh terletak di Desa Sangeh, Badung, Bali, sekitar 20km dari Denpasar.

Taman Wisata Alam Sangeh memiliki pesona wisata hutan yang banyak dihuni oleh ratusan kera. Kera-kera Sangeh dahulu memang dikenal sangat liar dan seringkali mengganggu para pengunjung. Kera Sangeh juga dikenal sangat jahil, karena seringkali mengambil barang-brang pengunung yang akan dikembalikan bila kera-kera tersebut diberi sepotong makanan. Namun sekarang kera Sangeh tidak lagi seliar dan sejahil dahulu, karena sekarang kera-kera tersebut telah diurus dengan baik.

Kera Sangeh juga memiliki beberapa kelompok yang masing-masing kelompok memiliki satu pemimpin. Namun kelompok-kelompok tersebut memilki pimpinan teringgi atau bisa dibilang raja dari seluruh raja kera yang ada di Sangeh. Pemimpin tertinggi ini berdiam ditempat yang paling luas di. Ditempat raja kera ini tinggal terdapat sebuah Pura Yang sangat terkenal kesakralannya yaitu Pura Bulit Sari.

Entah bagaimana caranya, pemimpin kera dipilih karena memiliki kekuatan dan kharisma yang sangat luar biasa. Bahkan mereka memiliki hak-hak yang lebih dibanding kera lainnya, seperti saat mengawini kera betina atau saat mendapat jatah makanan. Bisanya raja kera akan mendapat jatah pertama sampai ia puas, sebelum memberikan jatah tersebut pada kera-kera lain.

Sebagian besar kawasan hutan wisata ini, menjadi tempat bermukim kera, hanya sebagian kecil saja yang dimanfaatkan para pengusaha untuk membuat beberapa kios tempat menjual beraneka ragam cinderamata.

Hutan wisata ini memang banyak ditumbuhi tanaman pala (dipterocarpustrinervis). Menurut informasi hutan pala ini telah berumur ratusan tahun, bahkan diantara pohon pala tersebut konon ada yang telah berumur lebih dari tigaratus tahun.

Menurut pengelola Taman Wisata ini, Hutan Wisata Sangeng dibuat sebagai taman dari kerajaan Mengwi. Agar terlihat cantik taman ini ditanami pohon pala yang khusus didatangkan dari Gunung Agung. Sebenarnya rencana pembuatan taman ini sangat dirahasikan namun akhirnya pembuatan taman ini diketahui oleh beberapa orang, akibatnya pembuatan taman itu dihentikan, hingga akhirnya kawasan itu diberi nama Sangeh, yang artingya ada orang yang melihat.

Jika kita sempat mengunjungi taman wisata ini, kita pasti akan tertarik dengan keindahan pohon pala yang tumbuh dihutan ini, karena selain tumbuhnya lurus, pohon pala juga memiliki kayu yang sangat bagus. Namun anehnya, menurut beberapa sumber pohon pala Sangeh konon tidak bisa ditanam ditempat lain. Hingga orang-orang yang ingin memiliki kayu pohon Pala tidak pernah kesampaian.

Ada hal menarik diceritakan oleh para pengunjung dan pengelola Taman Wisata Sangeh tentang sebuah pohon yang telah tua dan akan roboh. Dari perkiraan banyak orang, pohon tersebut akan roboh kearah Pura Bukit Sari, namun kenyataanya semua ternyata melenceng. Awalnya pohon tersebut akan ditebang namun tidak ada yang berani karena takut mendapat kutukan.

"Sekitar awal Januari, akhirnya pohon itu roboh sendiri, mengarah ke barat daya. Persis antara bangunan Bale Kulkul dan Pewaregan, sehingga hanya sedikit sekali menimbulkan kerusakan, hanya pada tembok luar Pewaregan saja. Ini mengherankan karena seharusnya pohon itu tumbang persis di bangunan utama pura," kata Sumohon.

Selain pohon pala, masih ada tanaman yang terkenal di hutan Sangeh. Masyarakat setempat biasa menyebutnya Pohon Lanang Wadon, karena bagian bawah pohon itu berlubang sehingga menyerupai alat kelamin perempuan, sedangkan di tengah lubang tersebut tumbuh batang yang mengarah ke bawah yang terlihat seperti alat kelamin pria. Pohon itu tumbuh persis di pelataran depan tempat wisata Sangeh dan sebenarnya merupakan pohon pule.

Di Bali, pohon pule memiliki banyak keistimewaan karena kayunya sering digunakan untuk keperluan khusus, misalnya, membuat topeng yang dipakai sebagai sungsungan. Masyarakat kadang-kadang ada yang meminta kayu pule itu, kata Subawa. Tetapi, tentu saja tidak boleh begitu saja orang mengambil kayu atau dahannya karena harus disesuaikan dulu hari baiknya serta memberi persembahan sebagai tanda minta ijin.

Tana Toraja merupakan objek wisata yang terkenal dengan kekayaan budayanya. Kabupaten yang terletak sekitar 350 km sebelah utara Makassar itu sangat t

Tana Toraja merupakan objek wisata yang terkenal dengan kekayaan budayanya. Kabupaten yang terletak sekitar 350 km sebelah utara Makassar itu sangat terkenal dengan bentuk bangunan rumah adatnya. Rumah adat ini bernama Tongkonan.

Atapnya terbuat dari daun nipa atau kelapa dan mampu bertahan sampai 50 tahun. Tongkonan juga memiliki strata sesuai derajat kebangsawanan masyarakat, seperti strata emas, perunggu, besi, dan kuningan.

Saking melekatnya imej Tana Toraja dengan bangunan rumah adat ini, sebagai bentuk promosi pariwisata dan untuk menggaet turis Jepang ke daerah ini, maka rumah adat pun dibangun di negeri matahari terbit itu.

Bangunannya dikerjakan oleh orang Toraja sendiri dan diboyong pengusaha pariwisata ke negeri sakura. Sekarang di Jepang sudah ada dua Tongkonan yang sangat mirip dengan Tongkonan asli. Kehadiran Tongkonan selalu membuat kagum masyarakat negeri tersebut karena bentuknya yang unik. Perbedaannya dengan yang ada di Tana Toraja hanya terletak pada atapnya yang menggunakan daun sagu (rumbia).

Masih banyak lagi daya tarik Tana Toraja selain upacara adat rambu solo (pemakaman) yang sudah tersohor selama ini. Sebutlah kuburan bayi di atas pohon tarra di Kampung Kambira, Kecamatan Sangalla, sekitar 20 km dari Rantepao, yang disiapkan bagi jenazah bayi berusia 0-7 tahun.

Meski mengubur bayi di atas pohon tarra itu sudah tidak dilaksanakan lagi sejak puluhan tahun terakhir, pohon tempat "menyimpan" mayat bayi itu masih tetap tegak dan banyak dikunjungi wisatawan.

Di atas pohon tarra - yang buahnya mirip buah sukun - dengan lingkaran batang pohon sekitar 3,5 meter, tersimpan puluhan jenazah bayi.

Sebelum jenazah dimasukkan ke batang pohon, terlebih dahulu batang pohon itu dilubangi. Mayat bayi diletakkan ke dalam, lalu ditutupi dengan serat pohon kelapa berwarna hitam. Setelah puluhan tahun, jenazah bayi itu akan menyatu dengan pohon tersebut.

Ini suatu daya tarik bagi para pelancong dan untuk masyarakat Tana Toraja tetap menganggap tempat tersebut suci seperti anak yang baru lahir.

Penempatan jenazah bayi di pohon ini, disesuaikan dengan strata sosial masyarakat. Makin tinggi derajat sosial keluarga itu maka makin tinggi letak bayi yang dikuburkan di batang pohon tarra.

Selain itu, bayi yang meninggal dunia diletakkan sesuai arah tempat tinggal keluarga yang berduka. Kalau rumahnya ada di bagian barat pohon, maka jenazah anak akan diletakkan di sebelah barat.

Sementara itu, untuk sampai di Tana Toraja yang mengagumkan ini ada jalur penerbangan domestik Makassar-Tana Toraja. Penerbangan ini hanya sekali dalam seminggu dan memakai pesawat kecil berpenumpang delapan orang. Namun, waktu yang dibutuhkan cukup singkat, hanya 45 menit dari Bandara Hasanuddin Makassar. Dan jika lewat darat, perjalanan yang cukup melelahkan membutuhkan waktu tujuh jam.

Even yang menarik di kawasan wisata ini adalah upacara pemakaman jenazah (rambu solo) dan pesta syukuran (rambu tuka) yang merupakan kalender tetap tiap tahun.

Selain even tersebut, para pengunjung bisa melihat dari dekat objek wisata budaya menarik lainnya, seperti penyimpanan jenazah di penampungan mayat berbentuk kontainer ukuran raksasa dengan lebar 3 meter dan tinggi 10 meter serta tongkonan yang sudah berusia 600 tahun di Londa, Rantepao.

Bukit Lawang, Bahorok; Wisata Alam Hutan Tropis

Setelah tiga tahun bencana banjir bandang, wisata Bukit Lawang di Bahorok kembali menggeliat. Kunjungan turis beranjak normal. Aktifitas wisata air dan alam yang menjadi sajian utama, masih menarik untuk dikunjungi.

Jika sedang berada di Sumatera Utara (Sumut), sempatkanlah datang ke Bukit Lawang. Jaraknya sekitar 96 kilometer barat laut Medan, ibukota Sumut. Angkutan model bus hingga travel berangkat hampir setiap waktu dari Terminal Terpadu Pinang Baris.

Selama perjalanan sekitar dua jam, akan terlihat perkebunan kelapa sawit, serta beberapa sungai yang menjadi sumber kehidupan warga sekitar. Lantas, sehabis melewati perkebunan karet, maka panorama Bukit Lawang yang menakjubkan terhampar luas.

Sejak dulu, tempat ini dikenal turis mancanegara sebagai objek wisata alam hutan tropis. Bahkan di dunia tidak lebih dari lima tempat yang mempunyai wisata hutan tropis yang sangat sejuk. Bukit Lawang bahkan mungkin salah satu yang terbaik di dunia. Pemandangan alamnya terutama didominasi bukit-bukit terjal, pepohonan rindang, dan pemandian sungai dengan airnya yang jernih.

Seiring dengan datangnya pagi hari, kabut akan menipis lantas sinar matahari menembus di balik daun-daun. Sementara deras air sungai Bahorok tak pernah henti. Suplai airnya bersumber dari hutan sekitar yang rimbun dan kokoh. Debit airnya yang deras dengan bebatuan alami, menempatkan sungai ini cocok untuk aktifitas wisata sungai seperti arung jeram. Sementara desiran angin, membawa oksigen murni yang baik untuk kesehatan.

Keindahan Bukit Lawang tidak terlepas dari posisinya yang merupakan bagian dari kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Sebagai sebuah kawasan taman nasional, kondisinya memang terjaga. Konsep ekowisata menjadi hal utama di sini.

Ketika banjir bandang menerjang kawasan wisata ini pada 2 November 2003 lalu, hampir sebagian besar alam di sekitarnya rusak. Badan sungai pun melebar karena sebagian pepohonan berusia ratusan tahun yang ada di tepian sungai rubuh dihantam air bah berkecepatan pesawat boeing. Ratusan korban jiwa tewas, dan rumah-rumah hanyut.

Namun tiga tahun setelah itu, Bukit Lawang hampir 90 persen pulih. Berdasarkan data Seksi Konservasi Wilayah III Balai Taman Nasional Gunung Leuser, sejak dibuka kembali pada Juni 2004 pasca banjir bandang tercatat 2.892 turis dari Eropa datang berkunjung sampai 31 Desember 2005. Meski jumlah tersebut masih jauh dari tingkat kunjungan sebelum banjir bandang, yaitu Mei-Oktober 2003, sebanyak 4.900 orang, namun sudah menunjukkan geliat ekowisata Bukit Lawang.

Kini cottage-cottage sudah mulai terisi penuh menjelang akhir pekan. Orang-orang dari beragam tempat berdatangan kemari. Termasuk turis-turis asal Eropa yang mendominasi para pengunjung asing, seperti Belanda, Jerman dan Swiss. Selain bermain arus sungai dan melakukan jungle trekking, para turis umumnya datang ke Stasiun Objek Wisata dan Pengamatan Orangutan atau Ponggo Resort, untuk melihat aktifitas pemberian makan pada orang utan (Ponggo abelii).

Untuk bisa melihat tempat rehabilitasi orang utan, pengunjung harus berjalan sekitar setengah jam dari tempat penginapan. Setidaknya harus melewati dua jembatan gantung dan melewati sungai selebar sekitar delapan meter dengan menggunakan perahu kecil.

Kegembiraan pengunjung akan sangat terasa, saat berinteraksi dengan orang utan. Pengunjung turut memberikan makanan, bersentuhan langsung secara fisik. Untuk mengungkapkan rasa terima kasih, biasanya orang utan memberi salam dengan cara berguling-guling atau melompat-lompat dengan keriuhan suaranya. akanan berupa pisang, semangka dan beragam jenis buah lainnya menjadi rebutan puluhan orang utan yang berdiam di sekitar sini.

Telaga Ngipik, Gresik; Potensi Wisata "Tersembunyi"

Hampir semua masyarakat Gresik mengenal makam Sunan Giri yang berada di Kecamatan Kebomas atau Makam Sunan Syech Maulana Malik Ibrahim di kawasan alun-alun kota. Bahkan, masyarakat dari daerah lain sudah sangat mengenal kedua tempat bersejarah tersebut, terutama umat Muslim yang pernah ikut perjalanan wisata Walisongo.

Pemerintah Kabupaten Gresik pun menjadikan kedua tempat tersebut sebagai sumber pemasukan daerah dari sektor pariwisata. Sementara tempat wisata yang potensial, seperti wisata Telaga Ngipik yang berada di tengah-tengah kawasan Industri PT Petrokimia Gresik, terabaikan pengelolaannya.

Padahal, hampir setiap hari Sabtu dan Minggu cukup banyak masyarakat Gresik yang menyempatkan berekreasi di tempat tersebut. Seperti yang terlihat pada hari Minggu (1/6) kemarin, puluhan pengunjung menikmati suasana telaga, yang dikelilingi pepohonan yang hijau dan rindang. Di tempat ini pula kejua- raan Ski Air tingkat nasional sering diselenggarakan, seperti pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XX beberapa waktu lalu.

Namun ironisnya, masih banyak masyarakat Gresik yang belum mengetahui keberadaan Telaga Ngipik. Selain karena masih banyak yang lebih suka memilih wisata religi, lemahnya promosi wisata Telaga Ngipik yang dilakukan pihak Pemkab merupakan salah satu faktor "terlupakannya" tempat wisata ini.

Letaknya yang ada di tengah jantung Kota Gresik itu membuat tempat wisata Telaga Ngipik cukup mudah dijangkau oleh masyarakat yang hendak berekreasi di tempat tersebut. Lokasinya tepat di sekitar kawasan pabrik pupuk PT Petrokimia Gresik di Kecamatan Kebomas atau sekitar satu kilometer dari alun-alun Gresik di Jalan Wahid Hasyim.

Untuk sampai di kawasan wisata tersebut dari Surabaya bisa ditempuh selama 30 menit di ruas jalan raya Surabaya-Lamongan. Dari pertigaan tugu PT Petrokimia Gresik, masuk ke arah kanan dan menyusuri jalan lurus sekitar 200 meter. Pintu gerbang Telaga Ngipik akan terlihat di sisi kiri jalan. Wisata Telaga Ngipik dapat menjadi wisata alternatif yang menyenangkan. Dengan hanya membayar tiket masuk sebesar Rp 1.000 per orang, pengunjung sudah bisa menikmati pemandangan telaga sepuasnya.

Setidaknya, kenikmatan tersebut hampir serupa dengan apa yang bisa pengunjung nikmati ketika berada di telaga waduk Selorejo atau Telaga Sarangan di Magetan. Di areal telaga yang memiliki areal sekitar 100 hektar itu, selain sudah terdapat tempat bermain untuk anak-anak, beberapa stan penjual makanan dan suvenir juga tersedia.

Bagi yang sudah berkeluarga, keceriaan anak-anak merupakan tujuan berwisata. Seperti yang diungkapkan Wagiman, warga Desa Sidorukun, Gresik, "Apalagi di sini sudah tersedia arena permainan anak-anak. Jadi, selain saya dapat istirahat di pinggir telaga, anak-anak bisa bermain sendiri di tempat permainan", ujar Wagiman.

Selain permainan anak, di kawasan wisata ini juga disiapkan dua perahu motor yang setiap saat dapat digunakan untuk mengelilingi telaga. Ada 20 tempat duduk dalam kapal motor sepanjang 12 meter itu. Dengan hanya membayar Rp 2.500 setiap penumpangnya dapat menikmati keindahan telaga dengan perahu motor.

Selain itu, disediakan pula 10 sepeda air yang bisa digunakan sewaktu-waktu di areal yang sudah ditentukan oleh pengelola. Biayanya juga murah, hanya Rp 5.000 per sepeda air selama 1 jam.
Kalau sekadar ingin menikmati panorama telaga, dermaga milik kelompok olahraga ski air juga bisa dikunjungi. Dari dermaga ini, pengunjung dapat melihat air telaga yang sejuk terutama pada pagi hari ataupun sore hari.

Keberadaan telaga tidak hanya dinikmati wisatawan yang datang dengan keluarganya. Puluhan pemancing juga berdatangan ke Telaga Ngipik untuk menyalurkan hobinya. Bahkan, para pemancing ini biasanya datang lebih awal dibanding pengunjung wisata lainnya.

Meski hasil pancingan yang diperoleh tidak sebanyak dan sebesar dengan ikan yang dipancing di kolam pemancingan, para pemancing tetap merasa puas dengan memancing di Telaga Ngipik tersebut.

"Bagi saya, jumlah ikan yang bisa saya peroleh dari tempat ini bukan menjadi soal. Justru, suasana telaga inilah yang bisa memberikan kenikmatan tersendiri. Apalagi, kalau tempat ini lebih dikelola dengan bagus, saya yakin akan lebih banyak orang yang datang ke tempat ini," ujar Sobari, salah seorang pemancing.

Telaga Ngipik, Gresik; Potensi Wisata "Tersembunyi"

Hampir semua masyarakat Gresik mengenal makam Sunan Giri yang berada di Kecamatan Kebomas atau Makam Sunan Syech Maulana Malik Ibrahim di kawasan alun-alun kota. Bahkan, masyarakat dari daerah lain sudah sangat mengenal kedua tempat bersejarah tersebut, terutama umat Muslim yang pernah ikut perjalanan wisata Walisongo.

Pemerintah Kabupaten Gresik pun menjadikan kedua tempat tersebut sebagai sumber pemasukan daerah dari sektor pariwisata. Sementara tempat wisata yang potensial, seperti wisata Telaga Ngipik yang berada di tengah-tengah kawasan Industri PT Petrokimia Gresik, terabaikan pengelolaannya.

Padahal, hampir setiap hari Sabtu dan Minggu cukup banyak masyarakat Gresik yang menyempatkan berekreasi di tempat tersebut. Seperti yang terlihat pada hari Minggu (1/6) kemarin, puluhan pengunjung menikmati suasana telaga, yang dikelilingi pepohonan yang hijau dan rindang. Di tempat ini pula kejua- raan Ski Air tingkat nasional sering diselenggarakan, seperti pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XX beberapa waktu lalu.

Namun ironisnya, masih banyak masyarakat Gresik yang belum mengetahui keberadaan Telaga Ngipik. Selain karena masih banyak yang lebih suka memilih wisata religi, lemahnya promosi wisata Telaga Ngipik yang dilakukan pihak Pemkab merupakan salah satu faktor "terlupakannya" tempat wisata ini.

Letaknya yang ada di tengah jantung Kota Gresik itu membuat tempat wisata Telaga Ngipik cukup mudah dijangkau oleh masyarakat yang hendak berekreasi di tempat tersebut. Lokasinya tepat di sekitar kawasan pabrik pupuk PT Petrokimia Gresik di Kecamatan Kebomas atau sekitar satu kilometer dari alun-alun Gresik di Jalan Wahid Hasyim.

Untuk sampai di kawasan wisata tersebut dari Surabaya bisa ditempuh selama 30 menit di ruas jalan raya Surabaya-Lamongan. Dari pertigaan tugu PT Petrokimia Gresik, masuk ke arah kanan dan menyusuri jalan lurus sekitar 200 meter. Pintu gerbang Telaga Ngipik akan terlihat di sisi kiri jalan. Wisata Telaga Ngipik dapat menjadi wisata alternatif yang menyenangkan. Dengan hanya membayar tiket masuk sebesar Rp 1.000 per orang, pengunjung sudah bisa menikmati pemandangan telaga sepuasnya.

Setidaknya, kenikmatan tersebut hampir serupa dengan apa yang bisa pengunjung nikmati ketika berada di telaga waduk Selorejo atau Telaga Sarangan di Magetan. Di areal telaga yang memiliki areal sekitar 100 hektar itu, selain sudah terdapat tempat bermain untuk anak-anak, beberapa stan penjual makanan dan suvenir juga tersedia.

Bagi yang sudah berkeluarga, keceriaan anak-anak merupakan tujuan berwisata. Seperti yang diungkapkan Wagiman, warga Desa Sidorukun, Gresik, "Apalagi di sini sudah tersedia arena permainan anak-anak. Jadi, selain saya dapat istirahat di pinggir telaga, anak-anak bisa bermain sendiri di tempat permainan", ujar Wagiman.

Selain permainan anak, di kawasan wisata ini juga disiapkan dua perahu motor yang setiap saat dapat digunakan untuk mengelilingi telaga. Ada 20 tempat duduk dalam kapal motor sepanjang 12 meter itu. Dengan hanya membayar Rp 2.500 setiap penumpangnya dapat menikmati keindahan telaga dengan perahu motor.

Selain itu, disediakan pula 10 sepeda air yang bisa digunakan sewaktu-waktu di areal yang sudah ditentukan oleh pengelola. Biayanya juga murah, hanya Rp 5.000 per sepeda air selama 1 jam.
Kalau sekadar ingin menikmati panorama telaga, dermaga milik kelompok olahraga ski air juga bisa dikunjungi. Dari dermaga ini, pengunjung dapat melihat air telaga yang sejuk terutama pada pagi hari ataupun sore hari.

Keberadaan telaga tidak hanya dinikmati wisatawan yang datang dengan keluarganya. Puluhan pemancing juga berdatangan ke Telaga Ngipik untuk menyalurkan hobinya. Bahkan, para pemancing ini biasanya datang lebih awal dibanding pengunjung wisata lainnya.

Meski hasil pancingan yang diperoleh tidak sebanyak dan sebesar dengan ikan yang dipancing di kolam pemancingan, para pemancing tetap merasa puas dengan memancing di Telaga Ngipik tersebut.

"Bagi saya, jumlah ikan yang bisa saya peroleh dari tempat ini bukan menjadi soal. Justru, suasana telaga inilah yang bisa memberikan kenikmatan tersendiri. Apalagi, kalau tempat ini lebih dikelola dengan bagus, saya yakin akan lebih banyak orang yang datang ke tempat ini," ujar Sobari, salah seorang pemancing.

Pasir Padi Bangka, Pantai Menawan yang Nyaris Terlupakan

Pasir Padi merupakan salah satu pantai menawan di Pulau Bangka. Bagi warga Pangkalpinang, kota berpenduduk sekitar 134.000 jiwa, Pasir Padi merupakan satu-satunya tempat wisata pantai di kota itu. Kawasan wisata yang menghadap Laut Cina Selatan tersebut memiliki sejumlah obYek wisata alam yang indah. Lebar pantainya mulai dari sekitar 100 meter sampai 300 meter. Ombak laut yang begitu tenang membuat pantai itu terasa aman untuk mandi.

Bagian paling selatan pantai ini bersambung pula dengan Pantai Tanjung Bunga yang termasuk dalam wilayah Kabupaten Bangka Tengah. Keindahan Pantai Pasir Padi tidak berbeda dengan pantai lain yang menawan di seantero Pulau Bangka, pulau yang sejak berabad-abad lalu dikenal dengan hasil tambang timah dan lada putihnya.

Bagi orang yang belum pernah berkunjung ke Pulau Bangka, menyetarakan pantai-pantai di pulau ini dengan pantai di Pulau Bali barangkali dinilai agak berlebihan. Namun, ketika menginjakkan kaki di pulau penghasil lada putih ini, pengunjung mungkin akan berdecak kagum melihat keindahan pantainya.

Sebut saja misalnya empat pantai di daerah tetangga Pangkalpinang, yakni Kabupaten Bangka. Di daerah itu setidaknya ada empat pantai yang menawan, seperti Pantai Matras, Parai, Tanjung Pesona, dan Pantai Rebo. Namun, pengunjung yang hendak ke pantai-pantai itu tidak perlu khawatir karena rambu lalu lintas penunjuk arah ke obyek wisata dipasang di beberapa tempat. Pengunjung tidak perlu takut kesasar seperti saat hendak ke Pasir Padi.

Pasir Padi sebenarnya bisa menjadi tujuan wisata utama karena lokasinya masih berada di dalam kota. Pengunjung dari luar daerah atau mancanegara, baik yang tiba melalui Depati Umar maupun Pelabuhan Pangkalan Balam, bisa langsung ke pantai itu. Wisatawan yang datang melalui Pelabuhan Muntok di Bangka Barat pun bisa langsung ke Pasir Padi sebelum ke lokasi wisata pantai lainnya.

Keindahan Pantai Pasir Padi akhirnya memang seperti terabaikan karena pengelolaannya kurang bagus. Padahal, pantai itu menyimpan keindahan yang menawan. Sampai sekarang, mungkin hanya penduduk Pangkalpinang dan sekitarnya yang bisa menikmatinya, di samping sebagian kecil pendatang dari luar daerah.

Kurangnya promosi menjadi salah satu penyebab mengapa pantai itu hanya ramai dikunjungi warga setempat. Itu pun hanya terjadi pada setiap akhir pekan. Pada hari-hari biasa, pengunjung hanya datang pada sore hari dengan jumlah rata-rata kurang dari 100 orang. Pengunjung rutin yang menikmati keindahan pantai itu adalah puluhan anak muda yang bertempat tinggal di desa-desa sekitar pantai. Mereka datang bukan untuk mandi di pantai atau sekadar berjemur, tetapi bermain sepak bola.

Pengunjung lain yang rutin pada sore hari bertandang ke Pasir Padi juga berasal dari kalangan anak muda dengan berkendaraan sepeda motor. Sambil mejeng mereka menikmati keindahan pantai, atau saling tancap gas di atas pasir pantai yang tidak lembek saat dilindas roda kendaraan.
Mobil-mobil pengunjung pun dengan bebas berlalu lalang di hamparan pasir pantai. Kerasnya pasir pantai, baik yang basah maupun yang kering, menyebabkan roda tidak amblas ke dalam pasir. Kondisi seperti itu yang membuat mereka berani bermobilria di pantai. Malah, sebagian pengunjung datang hanya untuk belajar menyetir mobil!

Di Pantai Pasir Padi pengunjung juga bisa berlayar di perairan pantai. Mereka bisa menuju dua pulau kecil yang letaknya hanya dua mil dari bibir pantai, yakni Pulau Panjang dan Pulau Semajun. Di Pulau Panjang pengunjung bisa menikmati masakan makanan laut, seperti ikan bakar, kepiting, dan sebagainya. Di pulau itu tinggal beberapa keluarga nelayan, sementara Pulau Semajun tidak berpenghuni.

Keindahan alam yang ditopang kelebihan berupa pasir padat di pantai itu ternyata belum mampu memancing lebih banyak wisatawan dari luar daerah atau mancanegara. Wisatawan yang datang umumnya hanya wisatawan lokal, Pangkalpinang maupun dari daerah sekitarnya saja.

Kawasan pantai itu sebenarnya sudah dilengkapi sejumlah fasilitas memadai, khususnya hotel berbintang dua, beberapa rumah makan, dan sejumlah warung makan dan minum. Bahkan, di lokasi itu juga terdapat tempat hiburan karaoke dan diskotek. Namun, fasilitas lain yang begitu penting bagi pengunjung, seperti toilet, sampai sekarang belum ada. Mungkin karena itu pula, Pasir Padi menjadi tidak populer bagi pengunjung.

Galangan Kapal VOC, Jakut; Wisata Sejarah Batavia

Galangan Kapal VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie) yang terletak di Jalan Kakap No. 1 Kelurahan Penjaringan, Jakarta Utara merupakan salah satu tempat wisata bersejarah di wilayah Utara Kota Jakarta. Dulunya Jakarta masih bernama Batavia ketika galangan kapal ini berdiri sekitar tiga ratus tahun lalu.

Di kawasan ini yang diberi nama Pasar Ikan menjadi pusat perdagangan utama di Asia. Bahkan ada yang menyebutkan hampir selama dua abad wilayah ini merupakan urat nadi suatu jaringan niaga, yang terentang dari Pulau Decima di Nagasaki (Japan) sampai Cape Town (Afrika Selatan) dan dari Ternate sampai Bandar Surat di pantai Teluk Arab.

Galangan Kapal VOC merupakan salah satu unsur pendukung yang amat penting bagi jaringan niaga sedunia, yang berlangsung dengan memakai kapal-kapal layar. Kapal-kapal berukuran besar dan kecil ini bongkar muat di galangan itu. Dan berlayar mengarungi lautan Pasifik, Hindia serta Atlantik dan singgah di berbagai pelabuhan antara Amsterdam dan Nagasaki, antara Hormuz (Pesia) dan Pulau Banda.

“Meskipun sudah beberapa kali mengalami pemugaran namun bangunan galangan kapal ini masih banyak yang asli dan bisa dijadikan warisan leluhur sejarah masa lalu,” ungkap Cahyadi salah seorang pengelola di galangan VOC itu kepada reporter jakartautara.com. Menurutnya, diperkirakan galangan kapal VOC ini berdiri tahun 1628 yang semula dijadikan kantor dan tempat dagang VOC. Luas areal sekarang hanya sekitar 2.000 meter persegi. Usia galangan kapal yang dibangun di atas tanah urukan ini lebih tua dari Museum Bahari. Bahkan ketika galangan kapal ini beroperasi di tempat museum bahari berdiri tadinya masih rawa-rawa dan empang.

Galangan kapal sudah berfungsi di tempat sekarang berdasarkan catatan sejarah pada tahun 1632. Namun pernah terjadi kebakaran besar tahun 1721 yang sempat merusak sebagian dari kompleks bangunan galangan ini. Sebelum mengalami pemugaran, dijelaskan Cahyadi, galangan kapal aslinya dibatasi dengan di utara oleh Jalan Pakin, di barat oleh gedung utama dan di selatan dibatasi oleh semacam gang di antara gedung kedua yang merupakan terusan dari gedung utama dan gedung baru di sebelah utara bekas Ankerwerf (bekas gudang gula, bengkel besi dan kayuy tahun 1980-1990- sempat dijadikan gudang bahan kimia, kini dalam keadaan kosong).

”Ini tadinya sungai besar yang diseberangnya ada kasteel Batavia (bangunan penting yang sudah dibongkar berdiri tahun 1618-1627) dan menuju ke Pelabuhan Sunda Kelapa yang jaraknya hanya beberapa ratus meter dari galangan ini”ujar Cahyadi seraya menjelaskan batas timur yang tadinya sungai diurug sewaktu ciliwung diluruskan mulai dari pintu kecil sampai ke pasar ikan.

Galangan kapal VOC tadinya merupakan tmpat untuk memperbaiki kapal-kapal besar yang berbulan-bulan lamanya berlayar tetapi juga untuk membuat kapal-kapal kecil. Berbagai golongan bekerja di galangan ini seperti pegawai administrasi dan pembukuan, serta pembuat peta, kompas dan jam pasir.

Mereka bekerja dan sebagian tinggal di gedung utama bersama dengan pejabat tertinggi di kompleks itu, yaklioni equipagemeester atau commandeur,. Lalu ada tukang kayu yang khusus membuat dan memperbaiki kapal serta tukang-tukang lainnya, termasuk terdapat diantaranya para budak belian. Mereka dipaksa bekerja keras, diberi makan jelek, dianiaya dan dihukum berat karena kesalahan atau masalah sepele.

Gedung galangan kapal yang berlantai dua itu kini tak lebih dari sebuah tempat bersejarah. Untuk melestarikan gedung bersejarah ini kini dikelola oleh swasta yaitu PT Sunda Kelapa Lestari dan sempat direnovasi pada tahun 1997 sampai 1999. Sekarang ini di galangan kapal VOC terdapat restoran dan cafe,ungkap Cahyadi yang memimpin restoran terdiri dari restoran China dan Indonesa dan juga terdapat cafe yang diberi nama cafe galang.

Di galangan kapal yang belakangan disewakan untuk kegiatan pesta perkawinan, pameran dan lain-lain itu terdapat galeri lukisan seta ada juga peti emas yag dsebut sebut tempat penyimpanan barang-barang berharga ukurannya 1 M X 1,2 meter. Di saat-saat libur cukup banyak pelancong dari Belanda yang sekedar untuk mengenang sejarah bangunan yang didirikan oleh leluhurnya